Jumat, 05 Februari 2021

Khutbah : Harta Terpuji Dan Tercela



Naskah khutbah Jumat berikut ini berpesan tentang kedudukan harta dalam Islam. Rasulullah dalam satu kesempatan mencela harta tapi di kesempatan lain memujinya. Hal ini menunjukkan, status kekayaan amatlah relatif, tidak hitam-putih.   Relativitas tersebut mengacu setidaknya pada dua hal, yakni dari mana dan untuk apa harta itu. Para pendengar khutbah Jumat diajak untuk memperhatikan bahwa harta yang baik haruslah bersumber dari dan diperuntukkan untuk hal-hal yang halal.   Teks khutbah Jumat kali berjudul "Khutbah Jumat: Harta Terpuji dan Harta Tercela". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi) 

  

السلام عليكم ورحمة الله و بر كا ته

  

 اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara melaksanakan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari seluruh yang diharamkan.   Kaum Muslimin rahimakumullah, Dalam kesempatan khutbah pada siang hari ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema: “Harta Terpuji dan Harta Tercela”.   Hadirin, Dalam perbendaharaan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, harta benda dicela sekaligus dipuji. Ini menunjukkan bahwa harta ada yang tercela dan ada yang terpuji. Di antara hadits yang mencela harta adalah hadits shahih riwayat Ibnu Hibban dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

   لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةٌ وَفِتْنَةُ أُمَّتِيَ الْمَالُ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّان)   

Maknanya: “Setiap umat memiliki fitnah (ujian dan cobaan), dan fitnah umatku adalah harta” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).   

Di antara hadits yang memuji harta adalah hadits riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash bahwa Nabi bersabda: 

  نِعِمَّا بِالْمَالِ الصَّالِحِ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ)   

Maknanya: “Sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang dimiliki oleh orang yang shalih” (HR Ahmad).  

 Orang yang menggunakan harta juga terbagi menjadi dua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim:  

 إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِحَقِّهِ، وَوَضَعَهُ فِي حَقِّهِ، فَنِعْمَ الْمَعُونَةُ هُوَ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِغَيْرِ حَقِّهِ، كَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)   

Maknanya: “Sesungguhnya harta ini seperti tanaman yang indah nan hijau. Orang yang memperolehnya dengan cara yang benar dan menempatkannya pada jalan yang benar, maka harta itu akan menjadi penolongnya (untuk taat dan memperoleh pahala). Dan barangsiapa memperolehnya dengan cara yang tidak benar, maka ia seperti orang yang makan dan tidak pernah merasa kenyang” (HR Muslim)   

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Tiga hadits yang shahih di atas menjelaskan kepada kita tentang macam-macam harta serta macam-macam cara menggunakannya. Harta yang terpuji adalah harta yang dihasilkan oleh seseorang dengan cara yang tidak diharamkan, lalu dibelanjakan untuk jalan yang tidak dimurkai oleh Allah. Harta inilah yang akan menjadi penolong (ni’ma al ma’unah) karena harta itu akan membantu dan mengantarkan pemiliknya kepada kebaikan. Orang yang menggunakan hartanya untuk menafkahi istrinya, anak-anaknya, kedua orang tuanya atau kerabatnya yang lain dengan niat yang baik, yaitu niat mendekatkan diri kepada Allah tanpa terkotori oleh sifat riya’ atau berbangga diri (al-fakhr), maka orang ini seakan telah bersedekah kepada fakir miskin. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  


 إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا فَهُوَ لَهُ صَدَقَةٌ (رَوَاهُ البُخَارِيُّ)   

Maknanya: “Jika seseorang menafkahkan hartanya untuk keluarganya dengan niat mengharap ridla dan pahala dari Allah, maka harta itu terhitung sedekah baginya” (HR al-Bukhari).  

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan harta dengan tanaman yang hijau, terlihat indah oleh mata, dan orang yang melihatnya terpesona serta menginginkan untuk memilikinya. Seorang Mukmin yang mengambilnya dari tempat yang dihalalkan oleh Allah, lalu membelanjakannya pada jalur yang dihalalkan oleh Allah, maka harta tersebut menjadi penolongnya di akhirat. Karena Allah ta’ala menjadikan harta sebagai alat dan sarana untuk memperoleh pahala dan balasan baik di akhirat. Abu Bakr ash-Shiddiq pernah memiliki harta yang luar biasa berlimpah. Lalu beliau membelanjakannya untuk menegakkan dakwah Rasulullah dan membantu kaum Muslimin yang lemah yang ditindas orang-orang musyrik di Makkah sebelum hijrah. Beliau telah mendermakan jumlah yang sangat banyak dari hartanya tersebut. Dan ketika tiba saatnya Rasulullah mengajak untuk mendermakan harta untuk kemaslahatan ummat Islam, Abu Bakr mendermakan seluruh hartanya yang tersisa. Ini terjadi pada permulaan dakwah Islam di Makkah. Ternyata ketika itu tidak ada seorang sahabat pun yang melakukan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakr kecuali ‘Umar bin Khathab. ‘Umar meneladani Abu Bakr dan mendermakan separuh harta yang dimilikinya untuk kepentingan dakwah Islamiyah.   

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Sedangkan harta yang tercela adalah yang diperoleh dengan cara yang haram. Cara-cara yang diharamkan oleh Allah sangatlah banyak. Di antaranya harta yang diperoleh dengan cara korupsi, menipu, berbohong dan menyembunyikan aib (cacat) yang ada pada suatu barang yang dijual. Termasuk harta yang haram adalah yang diperoleh dengan cara riba. Terutama riba al Qardl. Riba al Qardl adalah riba atau tambahan yang dihasilkan dari mengutangi orang lain dengan syarat bunga atau memanfaatkan fasilitas tertentu milik orang yang berutang tersebut. Harta riba ini termasuk harta yang keharamannya sangat besar. Dosa riba tidak kalah dengan dosa mencuri. Keduanya sama-sama tergolong dosa besar.   Kaum Muslimin yang berbahagia, Kewajiban yang berkaitan dengan harta yang kita miliki sangatlah banyak. Tidak hanya menafkahi orang yang menjadi tanggungjawab kita. Di samping itu juga ada hak-hak lain dalam harta yang wajib kita penuhi seperti zakat fitrah maupun zakat mal yang mesti kita bayarkan kepada orang yang berhak menerimanya.   Termasuk kewajiban orang yang berharta juga adalah menopang dakwah Islamiyah dengan harta. Pada prinsipnya, seorang Muslim dituntut untuk berperan serta dalam menyebarkan dakwah islamiyah. Peran tersebut bisa dipenuhi dengan jiwa, tenaga dan fikiran atau juga bisa dengan harta bagi mereka yang memiliki harta. Orang yang berhasil mengekang dirinya dan memaksa nafsunya untuk berderma demi kepentingan dakwah Islam, maka ia adalah orang yang beruntung. Jika diibaratkan perdagangan, maka orang seperti ini sedang berdagang dengan Allah dan perdagangan yang dia lakukan dengan Allah adalah perdagangan yang selalu menguntungkan. 

Allah ta'ala berfirman:  

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الصف: ١٠-١١)   

Maknanya: “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kalian Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? Yaitu kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui” (QS ash-Shaff : 10-11).   Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Berjihad di jalan Allah yang dimaksud oleh ayat ini adalah kullu ‘amal khairi (setiap amal kebaikan). Oleh karena itu, membangun masjid dan memakmurkan masjid termasuk Jihad di jalan Allah. Membangun sekolah-sekolah Islam dan pondok-pondok pesantren atau mendanai kegiatan pendidikan Islam juga termasuk jihad di jalan Allah. Mendanai kebutuhan-kebutuhan da’i untuk berdakwah juga termasuk jihad di jalan Allah. Mewakafkan tanah atau yang lainnya untuk kepentingan dan kemaslahatan dakwah juga termasuk jihad di jalan Allah. Menginfakkan harta untuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan juga termasuk jihad di jalan Allah. Menyantuni para fakir miskin atau memberikan modal usaha kepada mereka juga termasuk jihad di jalan Allah. Membantu para pemuda dan pemudi Muslim untuk menikah atau membiayai sebagian kebutuhan rumah tangga mereka juga termasuk jihad di jalan Allah.             

Kaum Muslimin yang berbahagia, Semua pintu jihad di jalan Allah yang telah disebutkan di atas biasa disebut dengan istilah sedekah.   Sedekah adalah bukti kekuatan iman orang yang bersedekah dan tanda bahwa ia percaya penuh terhadap janji yang Allah berikan kepada orang yang bersedekah. Yaitu pahala dan ganti dari harta yang sudah diinfakkan. Sedekah juga bisa menjadi sebab seseorang dibebaskan dari siksa neraka. Seringkali Nabi mengatakan tentang sebagian sahabat yang berderma: si fulan telah membeli dirinya dari neraka dengan bersedekah.   Janganlah kita merasa malu dengan pemberian yang sedikit, karena itu lebih baik daripada tidak memberi sama sekali.   Kemudian nilai sedekah tidak dilihat dari besar atau kecilnya pemberian. Uang seribu bisa lebih besar nilai pahalanya daripada seratus ribu. Semua tergantung kepada niat dan kondisi ekonomi seseorang. Suatu ketika Rasulullah bersabda: “Satu dirham mendahului seratus ribu dirham.” Ditanyakan kepada beliau: Bagaimana itu bisa terjadi? Rasulullah menjawab: “Seseorang memiliki dua dirham lalu ia menyedekahkan satu dirham dan yang satu dirham disisakan untuk dirinya, dan seorang lagi bersedekah dengan seratus ribu dirham dari hartanya yang sangat banyak.” Rasulullah menegaskan bahwa orang yang menyedekahkan satu dirham lebih besar pahalanya dari orang lain yang menyedekahkan seratus ribu dirham. Hal itu dikarenakan orang pertama menyedekahkan separuh dari seluruh hartanya. Dia berhasil mengalahkan nafsunya untuk kepentingan akhiratnya. Orang ini tidak mengatakan, aku hanya punya dua dirham bagaimana mungkin aku menyedekahkan satu dirham?. Dia lebih mementingkan akhirat, melawan nafsunya dan berharap ridla dan pahala dari Allah. Sedangkan orang kedua yang bersedekah dengan seratus ribu dirham, hartanya sangat banyak. Jumlah tersebut sangat sedikit dibandingkan dengan total harta yang dia miliki.   Hadirin jama’ah shalat Jumat rahimakumullah, Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua. Amin. 


Khutbah I

   اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الصف: ١٠-١١)   

  بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ   


Khutbah II 

  اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.  


Senin, 23 Maret 2020

Metode Menyalurkan Ilmu Bagi Orang Terdogmatis

Memang sebaiknya ketika kita menemukan pemikiran yang menyimpang dari aqidah Islam yang lurus, kita dianjurkan untuk meluruskannya dengan cara baik-baik. Bukan hanya sekedar mengeluarkan fatwa sesat atau fatwa kafir belaka.
Para ulama wajib menemui tokoh aliran-aliran yang dianggap menyimpang untuk bisa melakukan tanya jawab secara langsung tentang kebenaran pendapat mereka. Upaya ini perlu ditempuh sebagai langkah awal sebelum memutuskan vonis sesat.
Sebab biasanya penyimpangan pemikiran itu memang diproduksi oleh masing-masing tokoh yang ada di dalam suatu aliran. Maka tokoh-tokoh inilah yang seharusnya diajak bicara panjang lebar. Sebab siapa tahu apa yang diisukan di tengah masyarakat tentang sesatnya suatu aliran, ternyata hanya tuduhan belaka. Maka pertemuan langsung antara tokoh utama suatu aliran dengan para ulama lainnya akan bisa dijadikan sebagai sarana tabayyun yang baik.
Namun kita akui juga bahwa para ulama acapkali kurang mendapatkan respon positif dari para pemuka aliran-aliran itu. Dan seringkali pula justru para pemuka aliran itu merahasiakan dirinya, bahkan menghindar dari dialog langsung baik yang bersifat terbuka maupun tertutup. Sehingga terkesan ada kucing-kucingan dalam tiap masalah.
Misalnya, di tengah masyarakat terjadi keresahan yang diakibatkan adanya pendapat yang aneh dan asing dari salah satu anggota sebuah aliran tertentu. Lalu hal ini direspon oleh para ulama dengan mengundang pimpinan aliran itu untuk tabayyun. Sayangnya, seringkali undangan ini tidak direspon dengan baik. Bahkan ada kesan menghindar dari tabayyun itu.
Padahal kalau memang mereka mengklaim bahwa ajaran yang mereka bawa itu benar dan bisa dipertanggung-jawabkan, seharusnya undangan itu ditanggapi dengan baik. Bahkan kalau perlu, para tokoh utama aliran itu mempresentasikan tesis-nya di depan majelis ulama. Tentu saja dengan dilengkapi argumentasi dalil yang kuat. Seandainya apa yang mereka sampaikan memang mengandung kebenaran, pastilah para ulama akan menerima dan merespon aliran itu dengan positif. Sebaliknya, kalau yang disampaikan justru berisi hal-hal yang merusak aqidah, tentu saja mereka harus bisa menjawab dengan jujur dan ksatria.
Barangkali justru pada bagian inilah yang sering kurang mampu dihadapi oleh berbagai tokoh aliran itu. Mereka seringkali tidak siap ketika tesis mereka diuji secara ilmiah di dalam forum terbuka pada ahli syariah dan aqidah. Secara psikologis memang lebih mudah mengajarkan doktrin-doktrin kepada pengikut yang sejak awal sudah menyatakan kesetiaan dengan bai'at atau sejenisnya ketimbang harus tampil mempertahankan doktrin itu di depan majelis ulama.
Maka cukup dengan melihat keciutan nyali saja, kita bisa dengan mudah membedakan, manakah pemikiran yang benar dan mana yang beraroma sesat. Dan apa yang mereka lakukan itu sangat berbeda dengan apa yang dilakukan para nabi dan rasul ketika mengajarkan agama. Semua nabi menyampaikan ajaran yang dibawanya dengan hujjah dan dalil yang kuat. Mereka tidak pernah merasa takut atau minder ketika harus menyampaikan ajarannya di depan majelis yang paling ilmiyah sekalipun.
Para pemuka Quraisy seringkali meminta Nabi Muhammad SAW untuk berdialog dan mempresentasikan ajaran yang dibawanya. Dan Rasulullah SAW pun meresponnya dengan positif. Argumen demi argumen, dalil demi dalil serta nalar demi nalar dengan rinci beliau jelaskan, hingga tak satu pun para pemuka bangsa Arab itu yang mampu menolak kebenaran ajaran beliau, kecuali semata-mata karena keras hati. Bahkan Kaisar Heraklius pun setelah mempelajari dengan seksama tentang ajaran yang dibawa nabi Muhammad SAW, beliau mengakui kebenaran ajaran itu, meski tidak masuk Islam.
Sedangkan para tokoh aliran itu nyaris tak satu pun yang berani tampil mempresentasikan ajaran yang didoktrinkannya. Mereka hanya jadi tokoh untuk internal mereka saja, di luar komunitas mereka, tokoh itu bukan apa-apa, unkown dan nobody. Tidak ada sesuatu yang berharga dan teruji secara ilmiyah yang bisa dibanggakan dari mereka.
Jalan Keluar
Bila kita sudah yakin tidak berhasil membuat tokoh alira itu berani keluar kandang, sementara pemikiran sesatnya terus saja menyerang organ-organ tubuh umat Islam yang sehat, maka perlu dipikirkan tindakan lain.Yang barangkali bisa dipikirkan adalah ibarat tindakan dokter untuk membasmi kuman penyakit pada tubuh. Yaitu dengan menyuntikkan serum yang dapat melemahkan ke dalam tubuh pasien.
Dalam hal ini posisi anda memang cukup strategis, sebab anda tidak dianggap unsur luar yang harus dimusuhi atau diperangi. Anda dianggap sebagai 'orang dalam', sehingga mereka merasa lebih aman dan percaya dengan keberadaan anda di dalam aliran itu.
Jadi secara perlahan tapi pasti, anda bisa memainkan peran yang sangatberarti untuk bisa mengembalikan pemikiran sesat yang ada di dalamnya. Jangan berpikir anda menjadi orang munafik, sebaliknya justru anda punya peran mulia bak seorang double agent yang sedang menjalankan misi rahasia.
Tidak ada salahnya bila anda berupaya akitf dan masuk ke dalam inner circle dalam komounitas itu, agar anda bisa punya pengaruh dulu. Sebelum kemudian anda bisa nantinya melakukan proses pembaharuan secara sitematis. Anda bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh Malcom X ketika melakukan pembaharuan di dalam komutinas Black Moslem di bawah kekuasaan Elijah Muhammad.
Sedangkan contoh dari wajah buruknya, mungkin seperti peran para orientalis atau tokoh sekuleris yang kerjanya tiap hari melemparkan pemikiran yang merusak, tetapi dengan topeng ilmiyah dan pembaharuan. Hanya saja yang anda lakukan sebaliknya, yaitu dengan 'topeng pembaharuan', anda pelan-pelan membenahi pemikiran rusak yang ada di dalam aliran itu. Toh kita pun masih berprasangka baik bahwa tidak semua ajarannya buruk, pasti masih ada yang baik. Maka yang buruk dan menyimpang itu saja yang perlu diperbaiki secara sistematis.
Yakinlah bahwa peran anda di dalam aliran itu bagai serum yang mematikan bibit penyakit di tengah umat. Dan posisi anda ini sangat strategis, sebuah posisi yang barangkali para ulama sekalipun tidak mampu menggapainya.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan anda dalam rangka memperbaiki umat ini dari ketersesatannya. Amien
Ahmad Sarwat, Lc.

Sabtu, 13 Juli 2019

Khutbah Jumat: Tidak Ada Kebahagiaan di Dunia Kecuali Dengan Berpegang Kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Khutbah Jumat: Tidak Ada Kebahagiaan di Dunia Kecuali Dengan Berpegang Kepada Al-Qur’an dan Sunnah


KHUTBAH PERTAMA – KHUTBAH JUMAT: TIDAK ADA KEBAHAGIAAN DI DUNIA KECUALI DENGAN BERPEGANG KEPADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
Ummatal Islam,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Islam sebagai kemuliaan bagi pemeluknya, mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk memberikan kebahagiaan kepada mereka dunia dan akhiratnya. Allah juga menurunkan Al-Qur’an demikian pula wahyu berupa hadits sebagai bimbingan dalam kehidupan. Karena Allah telah memberikan manusia akal untuk berpikir, maka Allah menurunkan Al-Qur’an supaya mereka mentadabburinya. Allah berfirman:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا ﴿٢٤﴾
Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an ataukah di hati mereka ada kunci-kuncinya?” (QS. Muhammad[24]: 24)
Ummatal Islam,
Siapapun yang mempelajari Al-Qur’an, siapapun yang mempelajari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pasti Allah akan memuliakan ia di dunia dan akhirat. Tapi siapa yang berpaling dari Al-Qur’an dan hadits, ia pasti akan Allah hinakan di dunia dan akhirat. Maka tiada lain kewajiban setiap hamba adalah untuk senantiasa berpegang kepada dua perkara ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ، لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
“Aku tinggalkan sesuatu bersama kalian, jika kamu berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik)
Maka saudaraku, tidak ada kebahagiaan didunia ini kecuali dengan berpegang kepada dua perkara Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuai dengan apa yang dipahami oleh para Sahabat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan itulah jalan keselamatan. Siapapun yang ingin selamat tapi mencari jalan selain jalan Al-Qur’an dan hadits, maka ia pasti tersesat.
Sebaliknya, siapa yang ingin mencari kebahagiaan tapi ia mencari selain Al-Qur’an dan hadits sebagai sumber kebahagiaan, ia tak akan pernah berbahagia selama-lamanya.
Ummatal Islam,
Untuk berpegang kepada Al-Qur’an dan hadits tidaklah mudah. Karena membutuhkan kepada kekuatan iman dan ketaqwaan, membutuhkan keyakinan yang kuat kepada Allah Jalla Jalaluhu. Berapa banyak orang yang membaca Al-Qur’an, membaca hadits, namun karena keyakinan ia yang kurang kepada Allah, disamping itu terdapat di hatinya penyakit-penyakit, sehingga akhirnya Al-Qur’an dan hadits tidak lagi menjadi obat buat dia. Akan tetapi menjadi sesuatu yang menyeretnya ia ke dalam api neraka.
Oleh karena itulah Allah Ta’ala mengkisahkan tentang orang-orang munafik yang mereka menyembunyikan kekafiran dan memperlihatkan keimanan. Allah berfirman:
وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَـٰذِهِ إِيمَانًا
Apabila diturunkan surat dari Al-Qur’an di antara orang-orang munafik itu ada yang berkata, ‘Siapa yang bertambah keimanannya dengan diturunkan surat tersebut?’” (QS. At-Taubah[9]: 124)
Maka Allah menjawab:
فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ﴿١٢٤﴾
Adapun orang yang beriman kepada Allah, yang yakin dan membenarkan Rasulullah dengan diturunkan surat Al-Qur’an, bertambahlah keimanan mereka dan hati mereka bergembira ketika diturunkan Al-Qur’an.” (QS. At-Taubah[9]: 124)
Lalu di ayat selanjutnya:
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَىٰ رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ ﴿١٢٥﴾
Orang-orang yang ada di hatinya penyakit kemunafikan, maka dengan Allah turunkan surat Al-Qur’an tersebut bertambahlah penyakit yang ada di hatinya di samping penyakit yang ada.” (QS. At-Taubah[9]: 125)
Maka celaka, saudaraku..
Seorang yang ternyata hatinya bertambah penyakitnya dengan Al-Qur’an. Hal ini karena kurangnya keyakinan kepada Allah, kurangnya keyakinan ia kepada hari akhirat dan kurangnya keyakinan akan kebenaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka siapapun yang ingin mengikuti Al-Qur’an dan hadits, hendaklah yang ia lakukan pertama adalah ia bersihkan hatinya dari berbagai macam noda dan kotoran maksiat. Karena noda dan kotoran maksiat menyebabkan ia lemah untuk mengikuti Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penyakit-penyakit cinta dunia, penyakit kesombongan, penyakit kedengkian, ini semua menyebabkan ia tidak bisa menerima hidayah dari Al-Qur’an dan hadits Nabi Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Lihatlah Firaun yang sombong! Penyakit kesombongannya itu menghalangi ia beriman kepada Nabi Musa. Padahal Firaun yakin bahwa Nabi Musa benar. Allah berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
Mereka (Firaun dan kaumnya) mengingkari Risalah Nabi Musa padahal hati mereka yakin akan kebenarannya akibat daripada kesombongan mereka dan keangkuhan mereka.” (QS. An-Naml[27]: 14)
Penyakit hati ini apabila kita biarkan ia berada di hati akan menyebabkan Al-Qur’an tak lagi bermanfaat untuk hati kita. Lihatlah si Bal’am yang seringkali kita bacakan ayatnya. Dimana sering kali kita bacakan ayatnya. Allah telah ajarkan Taurat kepadanya, tapi ia memiliki dua penyakit hati yang mengerikan -yaitu cinta syahwat dan mengikuti hawa nafsu-. Akhirnya ayat-ayat yang Allah ajarkan kepadanya tak lagi bermanfaat bahkan menjadi bumerang dalam kehidupannya.
Maka siapapun yang ingin menjadi pengikut Al-Qur’an dan hadits, buanglah jauh-jauh cinta dunia yang berlebihan. Jangan sampai hati kita terpenuhi oleh hawa nafsu dan syahwat. Karena dua perkara ini menjadikan seseorang terseok-seok dalam mengikuti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّـهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّـهَ كَثِيرًا ﴿٢١﴾
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik bagi orang yang mengharapkan Allah dan kehidupan akhirat.” (QS. Al-Ahzab[33]: 21)
Sementara orang yang mengharapkan dunia jangan Anda sangka ia bisa mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena orang yang menginginkan dunia seringkali perintah Allah dan RasulNya tidak sesuai dengan kepentingan dunia.
Maka yaa Ummatal Islam,
Kita semua sudah tahu bahwa agama kita dasarnya Al-Qur’an dan hadits. Tapi secara kenyataannya banyak orang yang tidak mau mengikuti Al-Qur’an dan hadits. Hal ini karena ternyata hati mereka dikuasai oleh hawa nafsu. Mereka lebih senang berbicara agama dengan pendapat dan ra’yu, lebih senang berbicara tentang agama dengan keinginan semata dan syahwat. Sehingga akhirnya menyebabkan orang-orang seperti ini tersesat dari jalan yang benar. Bahkan mereka menafsirkan Al-Qur’an, menafsirkan hadits sesuai dengan keinginan mereka. Dan menganggap orang-orang yang mengikuti Al-Qur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman Sahabat katanya kurang pemahaman terhadap Al-Qur’an dan hadits.
أقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم

KHUTBAH KEDUA – KHUTBAH JUMAT: TIDAK ADA KEBAHAGIAAN DI DUNIA KECUALI DENGAN BERPEGANG KEPADA AL-QUR’AN DAN SUNNAH

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُUmmatal Islam,
Oleh karena itulah Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu hidayah untuk manusia. Namun tidak semua manusia bisa mengikutinya. Yang mengikutinya hanyalah orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:
الم ﴿١﴾ ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ﴿٢﴾
Alif laam miim. Itulah Al-Qur’an yang tidak ada padanya keraguan sedikitpun sebagai hidayah untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah[2]: 1-2)
Dalam ayat yang lain Allah menyebutkan, “hidayat untuk manusia”, tapi ternyata tidak semua manusia bisa mengikutinya. Hanya orang-orang yang bertakwa, yang beriman dan yakin kepada Allah dan RasulNya, yang betul-betul hatinya mengharapkan kehidupan akhirat, mereka yang bisa mengikuti Al-Qur’an dan hadits, mereka yang bisa melaksanakan perintah-perintah Al-Qur’an dan menjauhi larangan-laranganNya. Karena perintah-perintah Allah dan RasulNya sering kali tidak sesuai dengan syahwat manusia. Karena syahwat manusia seringkali menginginkan kemaksiatan. Sementara Allah dan RasulNya memanggil kita kepada kebaikan. Namun kebaikan seringkali berat dalam hawa nafsu kita.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
 اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللهم تقبل صيامنا وقيامنا و جميعا عباره يا رب العالمين
اللهم اصلح ولاه امور المسلمين في هذا البلد وفي سائر بلاد المسلمين يا رب العالمين اللهم انصر المسلمين في كل مكان يا رب العالمين اللهم واتوب علينا انك انت التواب الرحيم
عباد الله:
إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا الله العَظِيْمَ يَذْكُرْكُم، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُم، ولذِكرُ الله أكبَر.

Kamis, 20 Desember 2018

Kesabaran Ulama' dalam Berdakwah Tauhid

CERMIN KESABARAN ULAMA AHLUSSUNNAH DALAM BERDAKWAH:

BUKANLAH PERKARANYA MANUSIA MENGENALMU AKAN TETAPI PERKARANYA ENGKAU MENGENAL ALLAH


Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafizhahullah wa nafa'ana bi'ilmihi berkata:

"Orang mukmin yang mengetahui hak Allah Ta'ala, maka dia akan bersabar di atas dakwah kepada tauhid meskipun dia tinggal seorang diri. Sekiranya dia tinggal seorang diri dalam sebuah kampung dalam kondisi ditinggalkankan orang-orang dan mereka menjauhinya dikarenakan dia menyeru manusia kepada tauhid, maka dia akan tetap menyeru kepada tauhid dan merealisasikan tauhid.

Apabila diajarkan tauhid, maka yang datang sepuluh orang, namun apabila diajarkan kisah-kisah yang datang lima puluh ribu orang. Seorang mukmin mengajarkan tauhid meskipun ada seorang di sisinya dan dia akan bersabar serta bergembira terhadap pengajaran tauhidnya.

Demi Allah wahai saudara-saudara! Kami mendapati guru-guru kami ini, guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas adalah seorang yang bertakwa kepada Allah Ta'ala lagi pilihan dan kami tidaklah merekomendasi seorang pun di atas Allah, namun kami mengenal Beliau dengan agama, ibadahnya, dan lembutnya hati.

Asy Syaikh pernah mengajariku di ma'had ats atsanawi. Jika disebutkan para sahabat Nabi, maka Beliaupun menangis --semoga Allah Ta'ala merahmatinya dengan rahmat yang luas---, seorang yang bertauhid, seorang yang tauhidnya menakjubkan, hafizh (hafal) Al Quran. Dulu Syaikh Ibnu Shalih rahimahullah berkata: saya tidak tenang dalam shalatku kecuali bila ada Syaikh Asy Syibl dibelakangku maksudnya Syaikh orang yang hafizh.

Syaikh rahimahullah meninggal di masjid ini. Beliau mengajar disana setelah meriwayatkan, demi Allah saya melihat dengan kedua mataku wahai saudara-saudara, Beliau mengajar dan tidak ada muridnya! Beliau duduk di atas kursi dan disana tidak ada seorangpun yang duduk, namun Syaikh mengajar tauhid hingga selesai lalu shalat Isya berjamaah dan pulang. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. Demikianlah kami melihat sebagian guru kami.

Sebagian murid Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menyebutkan kepadaku bahwa Syaikh di awal kegiatan Beliau mengajar tidaklah seorangpun datang, sehingga muadzin masjid disuruh bermajelis bersama Beliau lalu Syaikh mengajar sebab Beliau mengajar karena Allah Ta'ala bukan karena publik. Jika seseorang itu melakukan sesuatu yang wajib atasnya di sisi Allah karena Allah, maka padanya ada hikmah.

Sebagian orang---wal'iyadzubillah---tertawa setan atasnya dengan mengatakan kepadanya: engkau bila mengajar tauhid maka tidak seorangpun yang akan datang kepadamu, namun bila engkau mengajar fikih terutama matan madzhab Malik ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Malik atau matan madzhab Hanafi ketika berada di kalangan pengikut madzhab Hanafi atau madzhab Syafi'i ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Syafi'i atau matan Hanbali ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Hanbali, niscaya akan hadir banyak orang di sisimu!

Seluruhnya ilmu, mengajar fikih tidak diragukan lagi bahwasannya fikih kebaikan dan ilmu namun seseorang jangan meninggalkan pengajaran tauhid dikarenakan sedikitnya orang yang hadir di sisinya dan inilah buah pengetahuan kita tentang pentingnya tauhid.

Dari sini kalian mengetahui kepahaman Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam membuat bab kitab ini dan membuat urutan kitab ini, dimana Beliau mengawalinya dengan pembukaan yang menjadikan seorang mukmin terikat dengan tauhid dan merealisasikan perkara yang telah kita menyebutkannya.

Wahai saudara-saudara; bukanlah perkaranya orang-orang mengenalmu akan tetapi perkaranya engkau mengenal Allah.

Betapa banyak ulama dan syaikh yang kita mengenal dan mendapati mereka tidak dikenal mayoritas orang, namun mereka termasuk hamba Allah pilihan secara ilmu dan pengajaran seperti orang yang sudah saya sebutkan yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl rahimahullah yang mungkin mayoritas kalian tidak mengenalnya, akan tetapi Beliau termasuk ulama dan hamba yang taat.

Guru kami Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz Asy Syibl--- rahimahullah rahmatan wasi'ah--- guru dan ustadz saya meninggal ketika muda rahimahullah. Seorang da'i tauhid, ulama tauhid, dan termasuk orang yang giat beribadah, tidaklah saya mengetahui Beliau meninggalkan shalat Dhuha. Beliau dulu menyelinap di antara pohon di Fakultas Syariah dan shalat Dhuha-- rahimahullah rahmatan wasi'ah--.

Betapa banyak ulama yang taat tidak kalian kenal, namun Allah mengenal dengan pengetahuan mereka sehingga perkaranya-- wahai saudara-saudara--bukanlah orang-orang mengenalmu. Bukanlah perkaranya keberadaanmu di depan publik, bukanlah perkaranya engkau populer.

Demi Allah! Sesungguhnya popularitas seringkali menjadi bencana atas seseorang. Akan tetapi seseorang hendaknya mengenal Allah dan menjadi hamba Allah yang shalih, orang yang memperbaiki, orang yang bersungguh-sungguh dalam mencurahkan apa yang dia mampu untuk mendekatkan manusia kepada Allah Ta'ala.

Wahai para penuntut ilmu janganlah sekali-kali popularitas menjadi cita-cita kalian. Janganlah kalian mengalihkan perhatian untuk dikenal orang akan tetapi antusiaslah untuk engkau mengenal Allah. Perbaikilah hubungan yang ada antara kalian dan Allah Ta'ala. Adapun apa yang lebih dari itu, maka urusannya kembali kepada Allah karena Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Sungguh engkau lebih baik meninggal dan tidak dikenal, namun kedudukanmu tinggi di surga disebabkan engkau mati dalam kondisi tidak dikenal. Namun mengenalnya manusia kepadamu seringkali sebagai sebab bencana atasmu.

Oleh karena itu antusiaslah terhadap apa yang bermanfaat kepadamu. Antusiaslah terhadap perkara yang mengangkat derajatmu yaitu engkau mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan melakukan perkara yang diridhai Allah Ta'ala. Apabila engkau mengetahui bahwa ini diridhai Allah, engkaupun antusias terhadapnya disertai kelembutan terhadap manusia dan beradab terhadap manusia.

Adapun manusia ridha terhadapmu, maka ini perkaranya sesuai kehendak Allah dan Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Pelajaran Ketiga/Syarh Kitabut Tauhid

https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=162203#entry740031

Dikutip dari
http://telegram.me/ukhwh