Senin, 23 Maret 2020

Metode Menyalurkan Ilmu Bagi Orang Terdogmatis

Memang sebaiknya ketika kita menemukan pemikiran yang menyimpang dari aqidah Islam yang lurus, kita dianjurkan untuk meluruskannya dengan cara baik-baik. Bukan hanya sekedar mengeluarkan fatwa sesat atau fatwa kafir belaka.
Para ulama wajib menemui tokoh aliran-aliran yang dianggap menyimpang untuk bisa melakukan tanya jawab secara langsung tentang kebenaran pendapat mereka. Upaya ini perlu ditempuh sebagai langkah awal sebelum memutuskan vonis sesat.
Sebab biasanya penyimpangan pemikiran itu memang diproduksi oleh masing-masing tokoh yang ada di dalam suatu aliran. Maka tokoh-tokoh inilah yang seharusnya diajak bicara panjang lebar. Sebab siapa tahu apa yang diisukan di tengah masyarakat tentang sesatnya suatu aliran, ternyata hanya tuduhan belaka. Maka pertemuan langsung antara tokoh utama suatu aliran dengan para ulama lainnya akan bisa dijadikan sebagai sarana tabayyun yang baik.
Namun kita akui juga bahwa para ulama acapkali kurang mendapatkan respon positif dari para pemuka aliran-aliran itu. Dan seringkali pula justru para pemuka aliran itu merahasiakan dirinya, bahkan menghindar dari dialog langsung baik yang bersifat terbuka maupun tertutup. Sehingga terkesan ada kucing-kucingan dalam tiap masalah.
Misalnya, di tengah masyarakat terjadi keresahan yang diakibatkan adanya pendapat yang aneh dan asing dari salah satu anggota sebuah aliran tertentu. Lalu hal ini direspon oleh para ulama dengan mengundang pimpinan aliran itu untuk tabayyun. Sayangnya, seringkali undangan ini tidak direspon dengan baik. Bahkan ada kesan menghindar dari tabayyun itu.
Padahal kalau memang mereka mengklaim bahwa ajaran yang mereka bawa itu benar dan bisa dipertanggung-jawabkan, seharusnya undangan itu ditanggapi dengan baik. Bahkan kalau perlu, para tokoh utama aliran itu mempresentasikan tesis-nya di depan majelis ulama. Tentu saja dengan dilengkapi argumentasi dalil yang kuat. Seandainya apa yang mereka sampaikan memang mengandung kebenaran, pastilah para ulama akan menerima dan merespon aliran itu dengan positif. Sebaliknya, kalau yang disampaikan justru berisi hal-hal yang merusak aqidah, tentu saja mereka harus bisa menjawab dengan jujur dan ksatria.
Barangkali justru pada bagian inilah yang sering kurang mampu dihadapi oleh berbagai tokoh aliran itu. Mereka seringkali tidak siap ketika tesis mereka diuji secara ilmiah di dalam forum terbuka pada ahli syariah dan aqidah. Secara psikologis memang lebih mudah mengajarkan doktrin-doktrin kepada pengikut yang sejak awal sudah menyatakan kesetiaan dengan bai'at atau sejenisnya ketimbang harus tampil mempertahankan doktrin itu di depan majelis ulama.
Maka cukup dengan melihat keciutan nyali saja, kita bisa dengan mudah membedakan, manakah pemikiran yang benar dan mana yang beraroma sesat. Dan apa yang mereka lakukan itu sangat berbeda dengan apa yang dilakukan para nabi dan rasul ketika mengajarkan agama. Semua nabi menyampaikan ajaran yang dibawanya dengan hujjah dan dalil yang kuat. Mereka tidak pernah merasa takut atau minder ketika harus menyampaikan ajarannya di depan majelis yang paling ilmiyah sekalipun.
Para pemuka Quraisy seringkali meminta Nabi Muhammad SAW untuk berdialog dan mempresentasikan ajaran yang dibawanya. Dan Rasulullah SAW pun meresponnya dengan positif. Argumen demi argumen, dalil demi dalil serta nalar demi nalar dengan rinci beliau jelaskan, hingga tak satu pun para pemuka bangsa Arab itu yang mampu menolak kebenaran ajaran beliau, kecuali semata-mata karena keras hati. Bahkan Kaisar Heraklius pun setelah mempelajari dengan seksama tentang ajaran yang dibawa nabi Muhammad SAW, beliau mengakui kebenaran ajaran itu, meski tidak masuk Islam.
Sedangkan para tokoh aliran itu nyaris tak satu pun yang berani tampil mempresentasikan ajaran yang didoktrinkannya. Mereka hanya jadi tokoh untuk internal mereka saja, di luar komunitas mereka, tokoh itu bukan apa-apa, unkown dan nobody. Tidak ada sesuatu yang berharga dan teruji secara ilmiyah yang bisa dibanggakan dari mereka.
Jalan Keluar
Bila kita sudah yakin tidak berhasil membuat tokoh alira itu berani keluar kandang, sementara pemikiran sesatnya terus saja menyerang organ-organ tubuh umat Islam yang sehat, maka perlu dipikirkan tindakan lain.Yang barangkali bisa dipikirkan adalah ibarat tindakan dokter untuk membasmi kuman penyakit pada tubuh. Yaitu dengan menyuntikkan serum yang dapat melemahkan ke dalam tubuh pasien.
Dalam hal ini posisi anda memang cukup strategis, sebab anda tidak dianggap unsur luar yang harus dimusuhi atau diperangi. Anda dianggap sebagai 'orang dalam', sehingga mereka merasa lebih aman dan percaya dengan keberadaan anda di dalam aliran itu.
Jadi secara perlahan tapi pasti, anda bisa memainkan peran yang sangatberarti untuk bisa mengembalikan pemikiran sesat yang ada di dalamnya. Jangan berpikir anda menjadi orang munafik, sebaliknya justru anda punya peran mulia bak seorang double agent yang sedang menjalankan misi rahasia.
Tidak ada salahnya bila anda berupaya akitf dan masuk ke dalam inner circle dalam komounitas itu, agar anda bisa punya pengaruh dulu. Sebelum kemudian anda bisa nantinya melakukan proses pembaharuan secara sitematis. Anda bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh Malcom X ketika melakukan pembaharuan di dalam komutinas Black Moslem di bawah kekuasaan Elijah Muhammad.
Sedangkan contoh dari wajah buruknya, mungkin seperti peran para orientalis atau tokoh sekuleris yang kerjanya tiap hari melemparkan pemikiran yang merusak, tetapi dengan topeng ilmiyah dan pembaharuan. Hanya saja yang anda lakukan sebaliknya, yaitu dengan 'topeng pembaharuan', anda pelan-pelan membenahi pemikiran rusak yang ada di dalam aliran itu. Toh kita pun masih berprasangka baik bahwa tidak semua ajarannya buruk, pasti masih ada yang baik. Maka yang buruk dan menyimpang itu saja yang perlu diperbaiki secara sistematis.
Yakinlah bahwa peran anda di dalam aliran itu bagai serum yang mematikan bibit penyakit di tengah umat. Dan posisi anda ini sangat strategis, sebuah posisi yang barangkali para ulama sekalipun tidak mampu menggapainya.
Semoga Allah SWT memudahkan jalan anda dalam rangka memperbaiki umat ini dari ketersesatannya. Amien
Ahmad Sarwat, Lc.

Kamis, 20 Desember 2018

Kesabaran Ulama' dalam Berdakwah Tauhid

CERMIN KESABARAN ULAMA AHLUSSUNNAH DALAM BERDAKWAH:

BUKANLAH PERKARANYA MANUSIA MENGENALMU AKAN TETAPI PERKARANYA ENGKAU MENGENAL ALLAH


Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili hafizhahullah wa nafa'ana bi'ilmihi berkata:

"Orang mukmin yang mengetahui hak Allah Ta'ala, maka dia akan bersabar di atas dakwah kepada tauhid meskipun dia tinggal seorang diri. Sekiranya dia tinggal seorang diri dalam sebuah kampung dalam kondisi ditinggalkankan orang-orang dan mereka menjauhinya dikarenakan dia menyeru manusia kepada tauhid, maka dia akan tetap menyeru kepada tauhid dan merealisasikan tauhid.

Apabila diajarkan tauhid, maka yang datang sepuluh orang, namun apabila diajarkan kisah-kisah yang datang lima puluh ribu orang. Seorang mukmin mengajarkan tauhid meskipun ada seorang di sisinya dan dia akan bersabar serta bergembira terhadap pengajaran tauhidnya.

Demi Allah wahai saudara-saudara! Kami mendapati guru-guru kami ini, guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas adalah seorang yang bertakwa kepada Allah Ta'ala lagi pilihan dan kami tidaklah merekomendasi seorang pun di atas Allah, namun kami mengenal Beliau dengan agama, ibadahnya, dan lembutnya hati.

Asy Syaikh pernah mengajariku di ma'had ats atsanawi. Jika disebutkan para sahabat Nabi, maka Beliaupun menangis --semoga Allah Ta'ala merahmatinya dengan rahmat yang luas---, seorang yang bertauhid, seorang yang tauhidnya menakjubkan, hafizh (hafal) Al Quran. Dulu Syaikh Ibnu Shalih rahimahullah berkata: saya tidak tenang dalam shalatku kecuali bila ada Syaikh Asy Syibl dibelakangku maksudnya Syaikh orang yang hafizh.

Syaikh rahimahullah meninggal di masjid ini. Beliau mengajar disana setelah meriwayatkan, demi Allah saya melihat dengan kedua mataku wahai saudara-saudara, Beliau mengajar dan tidak ada muridnya! Beliau duduk di atas kursi dan disana tidak ada seorangpun yang duduk, namun Syaikh mengajar tauhid hingga selesai lalu shalat Isya berjamaah dan pulang. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. Demikianlah kami melihat sebagian guru kami.

Sebagian murid Syaikh Ibnu 'Utsaimin rahimahullah menyebutkan kepadaku bahwa Syaikh di awal kegiatan Beliau mengajar tidaklah seorangpun datang, sehingga muadzin masjid disuruh bermajelis bersama Beliau lalu Syaikh mengajar sebab Beliau mengajar karena Allah Ta'ala bukan karena publik. Jika seseorang itu melakukan sesuatu yang wajib atasnya di sisi Allah karena Allah, maka padanya ada hikmah.

Sebagian orang---wal'iyadzubillah---tertawa setan atasnya dengan mengatakan kepadanya: engkau bila mengajar tauhid maka tidak seorangpun yang akan datang kepadamu, namun bila engkau mengajar fikih terutama matan madzhab Malik ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Malik atau matan madzhab Hanafi ketika berada di kalangan pengikut madzhab Hanafi atau madzhab Syafi'i ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Syafi'i atau matan Hanbali ketika engkau ada di kalangan pengikut madzhab Hanbali, niscaya akan hadir banyak orang di sisimu!

Seluruhnya ilmu, mengajar fikih tidak diragukan lagi bahwasannya fikih kebaikan dan ilmu namun seseorang jangan meninggalkan pengajaran tauhid dikarenakan sedikitnya orang yang hadir di sisinya dan inilah buah pengetahuan kita tentang pentingnya tauhid.

Dari sini kalian mengetahui kepahaman Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dalam membuat bab kitab ini dan membuat urutan kitab ini, dimana Beliau mengawalinya dengan pembukaan yang menjadikan seorang mukmin terikat dengan tauhid dan merealisasikan perkara yang telah kita menyebutkannya.

Wahai saudara-saudara; bukanlah perkaranya orang-orang mengenalmu akan tetapi perkaranya engkau mengenal Allah.

Betapa banyak ulama dan syaikh yang kita mengenal dan mendapati mereka tidak dikenal mayoritas orang, namun mereka termasuk hamba Allah pilihan secara ilmu dan pengajaran seperti orang yang sudah saya sebutkan yaitu guru kami Syaikh Abdul Aziz Asy Syibl rahimahullah yang mungkin mayoritas kalian tidak mengenalnya, akan tetapi Beliau termasuk ulama dan hamba yang taat.

Guru kami Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz Asy Syibl--- rahimahullah rahmatan wasi'ah--- guru dan ustadz saya meninggal ketika muda rahimahullah. Seorang da'i tauhid, ulama tauhid, dan termasuk orang yang giat beribadah, tidaklah saya mengetahui Beliau meninggalkan shalat Dhuha. Beliau dulu menyelinap di antara pohon di Fakultas Syariah dan shalat Dhuha-- rahimahullah rahmatan wasi'ah--.

Betapa banyak ulama yang taat tidak kalian kenal, namun Allah mengenal dengan pengetahuan mereka sehingga perkaranya-- wahai saudara-saudara--bukanlah orang-orang mengenalmu. Bukanlah perkaranya keberadaanmu di depan publik, bukanlah perkaranya engkau populer.

Demi Allah! Sesungguhnya popularitas seringkali menjadi bencana atas seseorang. Akan tetapi seseorang hendaknya mengenal Allah dan menjadi hamba Allah yang shalih, orang yang memperbaiki, orang yang bersungguh-sungguh dalam mencurahkan apa yang dia mampu untuk mendekatkan manusia kepada Allah Ta'ala.

Wahai para penuntut ilmu janganlah sekali-kali popularitas menjadi cita-cita kalian. Janganlah kalian mengalihkan perhatian untuk dikenal orang akan tetapi antusiaslah untuk engkau mengenal Allah. Perbaikilah hubungan yang ada antara kalian dan Allah Ta'ala. Adapun apa yang lebih dari itu, maka urusannya kembali kepada Allah karena Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Sungguh engkau lebih baik meninggal dan tidak dikenal, namun kedudukanmu tinggi di surga disebabkan engkau mati dalam kondisi tidak dikenal. Namun mengenalnya manusia kepadamu seringkali sebagai sebab bencana atasmu.

Oleh karena itu antusiaslah terhadap apa yang bermanfaat kepadamu. Antusiaslah terhadap perkara yang mengangkat derajatmu yaitu engkau mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan melakukan perkara yang diridhai Allah Ta'ala. Apabila engkau mengetahui bahwa ini diridhai Allah, engkaupun antusias terhadapnya disertai kelembutan terhadap manusia dan beradab terhadap manusia.

Adapun manusia ridha terhadapmu, maka ini perkaranya sesuai kehendak Allah dan Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Pelajaran Ketiga/Syarh Kitabut Tauhid

https://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=162203#entry740031

Dikutip dari
http://telegram.me/ukhwh