Rabu, 20 Januari 2021

Kelebihan Dan Keutamaan Surah Al Fatiha

Keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah sebelum tidur mampu membuat seseorang aman dari segala hal, kecuali kematian.

Binaayatulilmi - Surat Al-Fatihah menjadi surat paling awal saat kita hendak membuka Alquran. Bahkan Al-Fatihah selalu dibaca sebelum dan sesudah melakukan segala sesuatu.



Rasulullah juga mengatakan bahwa seseorang yang tidak membaca surat Al-Fatihah saat menjalankan salat dikatakan tidak sah, karena surat Al-Fatihah memiliki peranan yang sangat penting.

Adapun keistimewaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah jika dibandingkan dengan surat yang lainnya.

Kebaikan orang tersebut diterima oleh Allah SWT.

Seluruh dosanya yang ada di dunia diampuni.

Akan selamat lidah mereka dari api neraka yang sangat panas.

Akan terhindar dari murka Allah SWT. 

Mampu berjumpa dengan Allah SWT. 

Terbebas dari azab ketika ia dikubur nanti. 

Mendapat derajat yang lebih tinggi dibanding mereka yang tidak membaca, nanti ketika di surga. 

Keutamaan dan khasiat membaca surat Al-Fatihah sebelum tidur mampu membuat seseorang aman dari segala hal, kecuali kematian. 

Rumah yang sering dibacakan Al-Fatihah dan Al-Ikhlas akan bebas dari kefakiran, serta akan berlimpah kebaikan. 

Membaca Al-Fatihah sudah seakan-akan menyedekah emas di jalan Allah. 

Satu ayat dari surat Al-Fatihah menutup satu pintu neraka bagi orang tersbeut. 

Membaca surat Al-Fatihah dengan ayat kursi dan dua ayat surat aL-Imran ketika shalat akan dibalas di surga. 

Manfaat membaca Al-Fatihah yang terakhir adalah kita seakan telah membaca kitab injil, zabur, taurat. Quran, suhuf Ibrahim dan suhuf Idris sebanyak 7 kali.


Nama Lain Surat Al-Fatihah

AI-Fatihah dinamakan Juga dengan; Ummul Qur’an (lnduk al-Qur’an); Sab’u al-Matsanl (tujuh ayat yang diulang-ulang), al-Syafi’yah (penyembuh), al- Wafiyah (yang melengkapl), al-Kaliyah (yang mencukupi). al-Asas (dasar alQur’an), aI-Hamdu (pujlan). Bahkan, Imam al-Qurthubl telah menghimpun sebanyak dua belas nama lain untuk surah ini.

Al-Fatihah memlllki kedudukan mulia di antara surah-surah lain dalam al-Qur’an. Ia banyak memlliki nama, setiap nama memiliki arti mendalam yang semakin mempermantap kedudukan dan keutamaannya. Berikut ini, kita akan menyebutkan dua belas nama lain dari surah al-Fatihah yang sudah cukup akrab terdengar di gendang telinga kita:

1. Al-Shalat, dinamakan demikian berdasarkan Firman Allah dalam hadits Qudsi: “Aku telah membagi shalat (Al- Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagianf

2. Al-Hamdu (pujian), dinamakan demikian karena dimulai dengan kata al-Hamdu, dimana ia mencakup makna segala pujlan.

3. Fathatul kitab (pembuka kitab), para ulama sepakat akan penyebutan nama ini, karena la adalah pembuka surah-surah dalam al-Qur’an.

4. Ummul kltab (induk kitab), berdasarkan firman Allah,

 “Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (AI-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang Iain (ayat ayat) mutasyaabihat. Adapun orang orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-can’ ta’wi/nya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami ben’man kepada ayat ayat yang mutasyaabihal, semuanya itu dan‘ sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” Ali lmran: 7)

Allah juga berfirman: ” Dan sesunggulnya AI-Qur’an itu dalam Induk AI-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, ada/ah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hlkmah. ” (QS. Az-Zukhruf: 40)

Imam al Bukhari berpandangan bahwa penamaan surah ini dengan al-Fatihah sangat terkait dengan keduclukan dan poslsinya sebagai pembuka al Qur’an, clan juga meniadl surah pembuka yang dibaca dalam setiap shalat.

5. Ummul Qur’an (induk al-Qur’an), dlnamakan demik’lan kaxena ia mencakup permasalahan tauhid, ibadah, nasehat, peringatan akan hari pembalasan. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Alhamdulil/ah adalah ummu/ Qur ‘an dan Ummul kitab dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang terulang). “

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh at-Tirmldzi bahwa salah seorang sahabat berkata, “Ummul Qura adalah Makkah, Ummul Qur’an adalah al-Fatihah.” Ada juga yang berpandangan bahwa dinamakan Ummul Qur’an karena ia mencakup dan menghimpun semua cabang ilmu.

6. Al-Matsani, yaitu yang diulang-ulang pembacaannya dalam shalat. Dalam Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah berkata kepada Abi Said bin al-Mu’alla,

“Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu sebuah surah dimana ia adalah surah yang paling mulia dalam al-qur’an, yaitu Al-hamdulillahi rabbi! alamin, ia adalah tujuh (ayat) yang terulang-ulang dan Al-Qur’an aI-Adzhim yang aku diberikan. “

Allah Subhanahu wa Ta ’a/a berfirman:


ٱلْعَظِيمَ وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْمَثَانِى مِّنَ سَبْعًا ءَاتَيْنَٰكَ وَلَقَدْ


‘Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca beulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung. ”(Al-Hijr. 87)

7. Al-Qur’an AI-adzim disebut demikian karena ia mencakup dan menghimpun semua ilmu-llmu al-Qur’an, juga mencakup pujl-pulian yang sempurna bagi Allah.

8. Al-Syafiyah (penyembuh), penyebutan ini terambil dari hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id aI-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, “Al-Fatihah adalah penyembuh (syifa ’) dari seluruh penyakit.” (HR. Muslim).

9. Ruqyah, penyebutan ini terambil berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah berkata kepada seorang laki laki: ‘Apakah kamu mengetahui bahwa ia (Al Fatihah) adalah ruqyah?” laki laki ltu berkata, “Wahai Rasulullah, saya menjadikannya penyembuh untuk diriku.

Rasulullah bersabda:. “Semua surah al Qur’an adalah ruqyah. ” lbnu Mahlab berpandangan bahwa letak ayat ruqyah dalam surah Al-Fatihah adalah pada firman Allah. “iyya kana’budu wa iyyaka nasta’in.” (HR. Al Bukhari dalam bab al-Thibb)

10. Al Asas (dasar al Qur’an), penyebutan ini diambil berdasarkan perkataan lbnu Abbas, “Bagi setiap sesuatu memillki asas (dasar) dan asas dunia adalah Makkah . asas kitab adalah al Qur’an, asas al-Qur’an adalah al-fatihah, asas al-fatihah adalah ‘bismillahl rahmanl rahim’. apabila engkau sakIt atau mengeluhkan rasa sakit. hendaklah engkau mengobati dengannya, niscaya engkau akan sembuh dengan izin Allah.”

11. Al-Wafiyah (yang melengkapi). Sufyan bin Uyainah menyebutkan sebab penamaanan ini, “Karena ayatayat Al Fatihah tidak boleh dibaca dengan cara dipenggal atau dipotong. Lain halnya, apabila seseorang membaca surah yang lain (selain al-fatihah) maka la boleh membaca dengan cara membagi-bagi, misalnya dalam satu raka’at membaca satu ayat Ialu pada raka’at berikutnya ia membaca satu ayat lagi, namun itu tidak boleh dilakukan ketika membaca Al Fatihah.”

12. Al-Kafiyah (yang mencukupi), penamamaan ini didasarkan pada sabda Rasulullah kepada Muhammad al-lskandarani: “Ummul Qur’an adalah pengganti surah yang lain, dan surah yang Iain tidak dapat menggantikannya.” lbnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya al-Fatihah telah mencukupl surah yang lalnnya namun surah yang lainnya tldak dapat mencukupinya.”


Kewajiban Membaca Al Fatihah


Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Amru an-Naqid serta Ishaq bin Ibrahim semuanya dari Sufyan berkata Abu Bakar telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari az-Zuhri dari Mahmud bin ar-Rabi' dari Ubadah bin ash-Shamit menyatakan hadits tersebut marfu' kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 

 لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

"Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Fatihah." (Shahih Muslim: 595)


Menilik hadis tersebut, jelas membaca surah Al Fatihah adalah kewajiban dalam salat dan termasuk salah satu rukunnya. Bahkan, salat dianggap tidak sah bila tidak membaca surah ini. Dalam pandangan Imam Nawawi, hadis di atas dianggap menjadi dasar bagi mazhab Syafi’i bahwa membaca Al-Fatihah wajib hukumnya bagi orang yang mengerjakan salat, baik secara berjamaah (sebagai imam atau makmum) maupun sendiri.


Kandungan Surat Al Fatihah

Dalam surah Al Fatihah, terdapat beberapa kandungan yang mencakup tujuan dari Al-Qur'an. Seperti prinsip dan turunan ajaran agama yang meliputi aqidah, ibadah, syariah, keyakinan atas hari akhir, keimanan atas sifat mulia Allah, pengesaan dalam penyembahan, juga permohonan pertolongan melalui doa. Al Fatihah juga mengandung prinsip-prinsip asasi semua surah-surah di dalam Al-Qur’an.

Selasa, 19 Januari 2021

Nama-nama Lain Surat Al-Fatihah

 


AI-Fatihah dinamakan Juga dengan; Ummul Qur’an (lnduk al-Qur’an); Sab’u al-Matsanl (tujuh ayat yang diulang-ulang), al-Syafi’yah (penyembuh), al- Wafiyah (yang melengkapl), al-Kaliyah (yang mencukupi). al-Asas (dasar alQur’an), aI-Hamdu (pujlan). Bahkan, Imam al-Qurthubl telah menghimpun sebanyak dua belas nama lain untuk surah ini.

Al-Fatihah memlllki kedudukan mulia di antara surah-surah lain dalam al-Qur’an. Ia banyak memlliki nama, setiap nama memiliki arti mendalam yang semakin mempermantap kedudukan dan keutamaannya. Berikut ini, kita akan menyebutkan dua belas nama lain dari surah al-Fatihah yang sudah cukup akrab terdengar di gendang telinga kita:

1. Al-Shalat, dinamakan demikian berdasarkan Firman Allah dalam hadits Qudsi: “Aku telah membagi shalat (Al- Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagianf

2. Al-Hamdu (pujian), dinamakan demikian karena dimulai dengan kata al-Hamdu, dimana ia mencakup makna segala pujlan.

3. Fathatul kitab (pembuka kitab), para ulama sepakat akan penyebutan nama ini, karena la adalah pembuka surah-surah dalam al-Qur’an.

4. Ummul kltab (induk kitab), berdasarkan firman Allah,

 “Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (AI-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang Iain (ayat ayat) mutasyaabihat. Adapun orang orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-can’ ta’wi/nya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami ben’man kepada ayat ayat yang mutasyaabihal, semuanya itu dan‘ sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” Ali lmran: 7)

Allah juga berfirman: ” Dan sesunggulnya AI-Qur’an itu dalam Induk AI-Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, ada/ah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hlkmah. ” (QS. Az-Zukhruf: 40)

Imam al Bukhari berpandangan bahwa penamaan surah ini dengan al-Fatihah sangat terkait dengan keduclukan dan poslsinya sebagai pembuka al Qur’an, clan juga meniadl surah pembuka yang dibaca dalam setiap shalat.

5. Ummul Qur’an (induk al-Qur’an), dlnamakan demik’lan kaxena ia mencakup permasalahan tauhid, ibadah, nasehat, peringatan akan hari pembalasan. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Alhamdulil/ah adalah ummu/ Qur ‘an dan Ummul kitab dan sab’ul matsani (tujuh ayat yang terulang). “

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh at-Tirmldzi bahwa salah seorang sahabat berkata, “Ummul Qura adalah Makkah, Ummul Qur’an adalah al-Fatihah.” Ada juga yang berpandangan bahwa dinamakan Ummul Qur’an karena ia mencakup dan menghimpun semua cabang ilmu.

6. Al-Matsani, yaitu yang diulang-ulang pembacaannya dalam shalat. Dalam Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah berkata kepada Abi Said bin al-Mu’alla,

“Sungguh aku akan mengajarkan kepadamu sebuah surah dimana ia adalah surah yang paling mulia dalam al-qur’an, yaitu Al-hamdulillahi rabbi! alamin, ia adalah tujuh (ayat) yang terulang-ulang dan Al-Qur’an aI-Adzhim yang aku diberikan. “

Allah Subhanahu wa Ta ’a/a berfirman:


ٱلْعَظِيمَ وَٱلْقُرْءَانَ ٱلْمَثَانِى مِّنَ سَبْعًا ءَاتَيْنَٰكَ وَلَقَدْ


‘Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca beulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung. ”(Al-Hijr. 87)

7. Al-Qur’an AI-adzim disebut demikian karena ia mencakup dan menghimpun semua ilmu-llmu al-Qur’an, juga mencakup pujl-pulian yang sempurna bagi Allah.

8. Al-Syafiyah (penyembuh), penyebutan ini terambil dari hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id aI-Khudri bahwa Rasulullah bersabda, “Al-Fatihah adalah penyembuh (syifa ’) dari seluruh penyakit.” (HR. Muslim).

9. Ruqyah, penyebutan ini terambil berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Sa’id al Khudri bahwa Rasulullah berkata kepada seorang laki laki: ‘Apakah kamu mengetahui bahwa ia (Al Fatihah) adalah ruqyah?” laki laki ltu berkata, “Wahai Rasulullah, saya menjadikannya penyembuh untuk diriku.

Rasulullah bersabda:. “Semua surah al Qur’an adalah ruqyah. ” lbnu Mahlab berpandangan bahwa letak ayat ruqyah dalam surah Al-Fatihah adalah pada firman Allah. “iyya kana’budu wa iyyaka nasta’in.” (HR. Al Bukhari dalam bab al-Thibb)

10. Al Asas (dasar al Qur’an), penyebutan ini diambil berdasarkan perkataan lbnu Abbas, “Bagi setiap sesuatu memillki asas (dasar) dan asas dunia adalah Makkah . asas kitab adalah al Qur’an, asas al-Qur’an adalah al-fatihah, asas al-fatihah adalah ‘bismillahl rahmanl rahim’. apabila engkau sakIt atau mengeluhkan rasa sakit. hendaklah engkau mengobati dengannya, niscaya engkau akan sembuh dengan izin Allah.”

11. Al-Wafiyah (yang melengkapi). Sufyan bin Uyainah menyebutkan sebab penamaanan ini, “Karena ayatayat Al Fatihah tidak boleh dibaca dengan cara dipenggal atau dipotong. Lain halnya, apabila seseorang membaca surah yang lain (selain al-fatihah) maka la boleh membaca dengan cara membagi-bagi, misalnya dalam satu raka’at membaca satu ayat Ialu pada raka’at berikutnya ia membaca satu ayat lagi, namun itu tidak boleh dilakukan ketika membaca Al Fatihah.”

12. Al-Kafiyah (yang mencukupi), penamamaan ini didasarkan pada sabda Rasulullah kepada Muhammad al-lskandarani: “Ummul Qur’an adalah pengganti surah yang lain, dan surah yang Iain tidak dapat menggantikannya.” lbnu Katsir mengatakan: “Sesungguhnya al-Fatihah telah mencukupl surah yang lalnnya namun surah yang lainnya tldak dapat mencukupinya.”

Senin, 18 Januari 2021

LAFAL SHADAQALLAHUL-'ADZIM


Lafal shadaqa Allahul ‘Adzim, walau bukan persoalan baru namun masih ada saja yang bertanya tentangnya dalam mengakhir pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an. Bagi sebagian orang, persoalan ini dianggap sangat penting sehingga pantas untuk didiskusikan panjang lebar. Apakah termasuk ibadah atau bid’ah, berdosa atau tidak bila melaksanakannya.

Lafal Shadaqallahul- 'adzim mempunyai makna "telah benarlah Allah yang Maha Agung". Memang tidak dapat ditemukan adanya ayat Al-Qur'an atau Hadits yang menerangkan secara eksplisit (sharih) praktik atau perintah Nabi Muhammad saw untuk mengucapkan lafal tertentu sesudah membaca Al-Qur'an. Al-Qur'an hanya mengajarkan bahwa sebelum membacanya kita terlebih dahulu harus mengucapkan lafal ta'awudz. Dalam suratAn-Nahl ayat 98, Allah berfirman;


فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم


Artinya: "Apabila kamu membacaAl Qur'an, hendaklah kamu meminta perlin-dungan kepada Allah dari setan yang terkutuk".(Qs.an-Nahl[16]:98)


Meskipun tidak ditemukan dalam sumber naqli, praktek yang berlaku umum di tengah masyarakat adalah mengucapkan lafal "shadaqallahul-'azhim" setiap mengakhiri membaca Al-Qur’an. Dalam penelusuran kami, sesungguhnya penggunaan lafal tersebut bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah berlangsung sejak lama. Para mufasir dalam beberapa kesempatan setelah menerangkan tafsir sua­tu ayat, terkadang menimpali tafsirannya dengan ucapan "shadaqallahul-'azhim". Sebagai contoh adalah Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, al-Qurtubi dalam al-Jami'liAhkamil-Qur'an} Ibnu Ajibah da­lam Tafsir Ibnu Ajibah, asy-Syanqithi da­lam Adlwahul-Bayan dan Sayid Qutb dalam Fi Zhilalil-Qur'an. Menurut hemat kami, lafal ini digunakan sesungguhnya sebagai bentuk penghormatan (al-Qurtubi: I/27) dan penegasan (afirmasi) komitmen seorang Muslim akan kebenaran berita dan kandungan Al-Qur'an yang difirmankan Allah SwT.


Dalil implisit (ghairu sharih) yang umumnya dijadikan sandaran untuk ba-caan ini adalah Al-Qur'an surat Ali Imran ayat: 95 :


قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا وما كان من المشركين


Artinya: "Katakanlah: "Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik." (Qs. Ali Imran [3]: 95)


Ayat ini jika dilihat dari konteksnya me­mang berbicara tentang Bani Israil. Melalui ayat tesebut, Nabi Muhammad saw di-perintahkan oleh Allah SwT untuk menegaskan kepada Bani Israil bahwa Al-Qur'an adalah benar (akurat) tentang kisah-kisah yang ia bawa mengenai Bani Israil di masa lalu. Namun, ber-istidlal (mengambil dalil) dari ayat ini bukannya sama sekali tidak dibenarkan. Dalam hukum tajwid dibolehkan membaca ayat ini dengan berhenti setelah lafal "Allah", atau bisa disebut waqf jaiz (tempat yang dibolehkan berhenti). Jika kita berhenti di sini, maka ayat ini dapat melahirkan makna yang independen dari ayat sebelumnya dan lafal sesudahnya. Sehingga makna umumnya adalah ucapan "shadaqallahu" tidak mesti diucapkan hanya di depan Bani Israil yang meragukan kebenaran Al-Qur'an, melainkan dapat dibaca kapanpun jika ia dibutuhkan. Adapun penambahan lafal 'al-'adzim' dalam shadaqallahul-'adzim adalah sebagai bentuk ta'dzim (pengagungan) terhadap Allah SwT.


Berangkat dari keterangan di atas, ma­ka pendapat yang dapat kita pegang adalah lafal "shadaqallahul-'adzim" boleh diucap­kan kapan pun, terutama setelah mendengar informasi yang berhubungan dengan kebenaran informasi yang dibawa Al-Qur'an. Demikian juga pengucapannya setelah membaca Al-Qur'an. la dapat diterima dan bukan merupakan bid'ah (meng-ada-ada) dalam urusan agama. Hanya saja, yang perlu dicatat di sini adalah pelafalan kalimat tersebut tidak boleh diiringi de­ngan keyakinan bahwa ia adalah Sunnah Nabi saw yang diajarkan secara khusus, apalagi menganggapnya sebagai kewa­jiban agama. Sehingga, orang yang meng-akhiri bacaan Al-Qur'an tidak harus mem­baca bacaan ini dan orang yang tidak mem­baca bacaan ini setelah membaca Al-Qur'an juga tidak menyalahi tuntunan aga­ma. Selain itu, catatan lainnya adalah hendaknya lafal ini tidak diucapkan setelah membaca ayat Al-Qur'an di dalam ibadah shalat, karena shalat adalah ibadah mahdlah yang kita hanya diperkenankan mengikuti petunjuk agama dalam pelaksanaannya.

 


1. Ucapan “Shadaqallahul Adzim” (Maha Benar Allah Yang Maha Agung) Seusai Setiap Membaca al-Qur’an

Mengucapkan “shadaqallahul azhim” (Maha Benar Allah Yang Maha Agung) seusai setiap membaca al-Qur’an merupakan perbuatan bid’ah, karena perbuatan tersebut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maupun para al-Khulafa’ur Rasyidun atau para shahabat radhiyallahu ‘anhum. Juga tidak pernah dilakukan oleh para imam-imam salaf padahal mereka sangat sering membaca al-Qur’an, sangat memperhatikannya dan mengerti tentangnya. Dengan demikian ucapan tersebut dan pengharusan bacaannya setiap kali usai membaca al-Qur’an adalah perbuatan bid’ah yang diada-adakan.

Telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-ada dalam perkara kami ini (perkara agama) yang tidak berasal darinya, maka dia akan tertolak.” [1] (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam lafazh yang diriwayatkan Muslim disebutkan,

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melaksanakan suatu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan tersebut tertolak.” [2][3]

Adapun apabila ucapan tersebut dilafazhkan seseorang sesekali saat mendengarkan suatu ayat atau memikirkannya kemudian ia mendapatkan suatu pengaruh yang nyata dalam dirinya, maka tidak mengapa baginya untuk mengucapkan “Mahabenar Allah Yang Mahaagung, telah terjadi begini dan begitu”. Allah Subhanahu wa ta'ala telah berfirman :

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah:"Benarlah (apa yang difirmankan) Allah". Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. 3:95)

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ حَدِيثًا

“Dan siapakah yang lebih benar perkataan(nya) daripada Allah.” (QS. 4:87)

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda :

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah.” [4]

Maka boleh mengucapkan ucapan Shadaqallah dalam beberapa peristiwa yang menunjang ucapan tersebut, seperti bila melihat sesuatu yang terjadi, yang sebelumnya Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengingatkannya.

Namun apabila kita menjadikan ucapan tersebut seakan-akan termasuk hukum bacaan, maka perbuatan itu tidak ada dasarnya dan mengharuskannya termasuk bid’ah. Yang ada dasarnya dalam hukum bacaan adalah memulai membaca dengan mengucapkan isti’adzah (doa mohon perlindungan), sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa ta'ala :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآَنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. 16:98).

Rasulullah mengucapkan doa perlindungan dari setan saat memulai membaca al-Qur’an dan membaca basmalah setiap awal surat selain surat Bara’ah (at-Taubah). Adapun seusai membaca al-Qur’an, tidak ada pengharusan untuk mengucapkan dzikir khusus atau ucapan “shadaqallah”, atau lainnya. [5]

Sabtu, 02 Mei 2020

Jaminan Keasliannya Al-Quran
Kebenaran Al-Quran adalah sesuatu yang pasti. Karena Al-Quran merupakan perkataan Allah SWT yang Maha Benar. Dan Allah SWT menjamin keaslian Al-Quran :
إِنّا نحنُ نزّلنا الذِّكر وإِنّا لهُ لحافِظُون
Sesungguhnya  Kami-lah yang  menurunkan  Al -Quran,  dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya .(QS. Al-Hijr : 9)
Tidak ada seorang pun yang bisa memalsukan ayat-ayat Al-Quran, karena jaminan dari Allah SWT yang memang bisa kita lihat buktinya secara langsung.
Dan secara teknis, kemustahilan pemalsuan Al-Quran itu masuk akal, mengingat beberapa hal :

1. Dibaca Rutin dan Dihafal Berjuta Manusia
Selain ditulis, Al-Quran sampai kepada kita lewat hafalan yang merupakan keunggulan bahasa Arab.
Sejak diturunkan di masa Rasulullah SAW, sebenarnya Al-Quran itu lebih dominan dihafal ketimbang ditulis. Bukan hanya dihafal saja, tetapi Al-Quran dibaca tiap hari lima kali dalam shalat fardhu.
Kenapa lebih dominan dihafal? Karena Al-Quran itu turun dalam format suara dan bukan dalam format teks. Dan kelebihan bahasa Arab itu mudah dihafal dibandingkan menghafal kalimat dalam bahasa lainnya.
Saat ini di permukaan bumi ini ada bermilyar manusia yang menghafal ayat-ayat Al-Quran sebagiannya, dan ada ribuan umat Islam yang menghafal seluruh ayatnya yang lebih dari 6 ribuan. Mereka membacanya berulang-ulang setiap hari, setidaknya lima kali sehari.
Sekali saja ada orang yang salah membaca Al-Quran, akan ada ribuan orang yang mengingatkan kesalahan itu. Semua itu menjelaskan firman Allah SWT bahwa Al-Quran itu memang dijaga keasliannya oleh Allah SWT Tidak mungkin Al-Quran ini punah atau dipalsukan.
Al-Quran dari segi periwayatannya sangat pasti benarnya, sehingga para ulama menyebut hal ini dengan ungkapan : qat’iyu ats-tsubut (قطعي الثبوت).
  Selain Al-Quran, di dunia ini tidak ada satu pun kitab suci yang bisa dihafal oleh pemeluknya. Selain karena kitab-kitab suci mereka agak rancu sebagaimana kerancuan perbedaan doktrin dan perpecahan sekte dalam agama itu, juga karena kitab-kitab itu terlalu beragam versinya. Bahkan seringkali mengalami koreksi fatal dalam tiap penerbitannya. 
Oleh karena itu kita belum pernah mendengar ada Paus di Vatican sebagai pemimpin tertinggi umat Kristiani sedunia, yang pernah menghafal seluruh isi Injil atau Bible di luar kepala.
Para pendeta Yahudi tertinggi tidak ada satu pun yang mengklaim telah berhasil menghafal seluruh isi Talmud atau Taurat secara keseluruhan dari ayat pertama hingga ayat yang penghabisan.
Dan tidak ada satu pun dari para Biksu Budha di seluruh dunia yang dikabarkan pernah menghafal Tripitaka. Dan tak satu pun petinggi dari agama Hindu yang pernah dinyatakan menghafal Veda.
2. Sudah Ditulis Sejak Turun
Tidak seperti kitab lainnya, Al-Quran itu langsung ditulis seketika begitu turun dari langit. Rasulullah sendiri punya para penulis wahyu yang spesial bertugas untuk menuliskannya setiap saat. Tidaklah Rasulullah SAW meninggal dunia kecuali seluruh ayat Al-Quran telah tertulis di atas berbagai bahan, seperti pelepah kurma, kulit, dan lainnya.
Kalau kita bandingkan dengan kitab-kitab yang disucikan agama lain seperti Injil, Taurat, Zabur dan kitab suci lainnya, memang amat jauh perbedaannya. Kitab-kitab itu tidak pernah ditulis saat turunnya, meski kebudayaan yang berkembang di masa itu cukup maju dalam bidang tulis menulis.
Kalau pun saat ini ada musium yang menyimpan naskah Injil, naskah itu bukan naskah asli yang ditulis saat Nabi Isa alahissalam masih hidup. Tetapi merupakan naskah yang ditulis oleh orang lain, dan ditulis berabad-abad sepeninggal  Nabi Isa alaihissalam.
Jangankah umat Islam, umat Kristiani pun masih berselisih paham tentang keaslian kitab mereka sendiri.
a. Dijilid Dalam Satu Bundel
Di masa khilafah Abu Bakar ash-shiddqi radhiyallahuanhu berbagai tulisan ayat Al-Quran yang masih terpisah-pisah itu  kemudian disatukan dan dijilid dalam satu bundel.
Saat itu dikhawatirkan ada 70 penghafal Al-Quran telah gugur sebagai syuhada, sehingga Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu mengusulkan agar proyek penulisan ulang Al-Quran segera dijalankan. Hasilnya berupa satu mushaf standar yang sudah baku.
b. Distandarisasi Penulisannya
Di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahuanhu, dilakukan standarisasi penulisan Al-Quran, karena telah terdapat perbedaan teknis penulisan yang dikhawatirkan akan menjadi bencana di masa yang akan datang.
Sekedar untuk diketahui, bangsa Arab sebelumnya tidak terlalu menonjol dengan urusan tulis menulis, karena mereka tidak merasa membutuhkannya. Mengingat mereka mampu menghafal ribuan bait syair dengan sekali dengar, sehingga tidak merasa perlu untuk mencatat atau menuliskan sesuatu kalau tidak penting-penting amat.
Kalau pun ada tulis menulis, belum ada standarisasi teknis penulisan. Oleh karena itulah maka dibutuhkan sebuah standarisasi penulisan di masa khalifah Utsman.
Dan dengan adanya penulisan yang standar itu, maka semua mushaf yang pernah ditulis dikumpulkan dan dimusnahkan dengan cara dibakar. Sehingga yang ada hanya yang sudah benar-benar mendapatkan pentashihan dalam teknis penulisannya. Dan dikenal dengan istilah rasam Utsmani.
Mari Mengenal Karakteristik Al-Quran Melaui Nama-namanya


Al-Quran bukan banyak nama dan penyebutan sebagaimana tertuang di dalam Al-Quran sendiri . Di antaranya :
1. Al Kitab
Al-Kitab berarti juga buku, nama ini terdapat dalam surah Al-Baqarah.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah : 2)
2. Al Furqan
Al-Furqan memiliki arti pembeda benar salah, nama ini ada dalam QS Al-Furqan ayat 1
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hanba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al-Furqan : 1)
3. Adz-Dzikir
Adz-Dzikr artinya pemberi peringatan, hal ini bahkan secara tersirat juga disebutkan pada ayat sebelumnya.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Sesungguhnya Kami-Lah yang menurunkan Adz-Dzikr dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.(QS. Al-Hijr : 9)
4. Al Mau’izhah
Al-Mau’izhah berarti pelajaran atau nasihat. Nama ini keluar dalam ayat
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang ada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.  Yunus : 57)
5. Asy-Syifa’
Asy-Syifa yang berarti penyembuh.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra : 82)
Quran memang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW untuk mengobati penyakit hati manusia. Untuk itu saat kita merasa mempunyai penyakit yang berkaitan dengan hati, misalnya saja iri, kecewa, sedih, dan sebagainya dianjurkan untuk membaca Al-Quran. Membaca ayat suci Al-Quran Insya Allah dapat meringankan bahkan menghilangkan penyakit-penyakit tersebut.
6. Al-Hukmu
Al-Hukmu berarti juga hukum atau peraturan. Seperti kita ketahui sumber hukum Islam memang harus didasarkan pada Quran.
وَكَذَٰلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ
Dan demikianlah Kami telah menurunkan Al-Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam Bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu akan (siksa) Allah.(QS. Ar-Ra’d: 37)
7. Al-Hikmah
Kebijaksanaan merupakan arti dari Al-Hikmah yang juga nama lain dari Quran.
ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۗ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا
Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Janganlah kamu mengadakan Tuhan yang lain selain Allah yang (bisa) menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Isra’ : 39)
8. Al-Huda
Al-Huda bermakna petunjuk.
وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا
Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk, kami beriman kepadanya (quran). Barang siapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak pula akan penambahan dosa serta kesalahan. (QS. Al-Jin : 13)
9. At Tanzil
At-Tanzil memiliki arti ‘yang diturunkan’.
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Dan sesungguhnya (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam. (QS. Asy Syu’araa’ : 192)
10. Ar-Rahmat
وَإِنَّهُ لَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Dan sesungguhnya Quran itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An-Naml : 77)
11. Ar-Ruh
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruuh (Quran) dengan perintah Kami.” (QS. Asy-Syura: 52)
12. Al-Bayan
هَٰذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ
Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 138)
13. Al-Kalam
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, lalu antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Ddemikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah: 6)
14. Al-Busyra
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
Katakanlah! Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan (AlQuran) itu dari Tuhanmu dengan benar untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. An Nahl: 102)
15. An-Nur
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا
“Hai manusia, sesungguhnyatelah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS. AN Nisa: 174)
16. Al-Basha’ir
هَٰذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk, dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Jatsiyah: 20)
17. Al Balagh
هَٰذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ
Dan ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia dan supaya mereka diberi peringatan dengannya agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran.”(QS. Ibrahim: 52)
18. Al-Qaul
وَلَقَدْ وَصَّلْنَا لَهُمُ الْقَوْلَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut turut perkataan ini kepada mereka agar mendapat pelajaran.(QS. Al-Qashash: 51)

Minggu, 22 Maret 2020

Hadits Tentang Mencari Ilmu di Waktu Kecil

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ungkapan tersebut memang sangat populer di lidah manusia. Terutama di kalangan pesantren dan madrasah. Ungkapan ini menekankan pentingnya belajar, khususnya ilmu agama, di masa kecil.
Danpara peneliti perkembangan anak juga membenarkan hal itu. Mereka menegaskan bahwa sejak bayi otak manusia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bahkan para bayi sejak kecil telah belajar banyak hal.
Glandoman mengatakan bahwa kalau Anda baru ingin mengajari anak berusia 4 tahun untuk membaca, maka sesungguhnya hal itu telah terlambat. Karena sebenarnya bayi usia beberapa bulan sudah bisa mulai diajarkan membaca bahkan matematika.
Dalam sejarah Islam, para ulama terbiasa menghafal 30 juz Al-Quran sejak usia 5 hingga 8 tahun. Al-Imam Asy-Syafi'i bahkan telah menghafal kitab tebal karya Imam Malik, Al-Muwaththa', ketika berusia 15 tahun. Sehingga wajar bila para ulama di masa lalu bukan hanya ahli di bidang tafsir, hadits, fiqih dan ushul, tetapi juga mereka ahli di bidang ilmu pengetahuan dan sain.
Memang belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu. Jadi ungkapan itu memang benar dan sudah dibuktikan oleh sejarah dan data.
Kedudukan Hadits
Namun kalau kita telusuri tentang sumber perkataan ini, ternyata lafadz ini bukan hadits nabi SAW. Tidak ada riwayat yang shahih yang menetapkan bahwa Rasulullah SAW pernah mengucapkan hal itu.
Kalimat hikmah yang isinya memang mengandung kebenaran ini adalah kalimat dari seorang ulama besar di masa tabi'in. Di dalam kitab Jami' Bayanil 'Ilmi wa Fadhailihi karya Ibnu Abdil Barr, jilid 1 halaman 357, disebutkan bahwa kalimat ini adalah perkataan Al-Hasan Al-Bashri. Lengkapnya:
Dari Ma'bad dari Hasan Al-Basri, beliau berkata."Mencari ilmu pada saat kecil seperti memahat di atas batu."
Hasan Al-Basri bernama lengkap Abu Said Al-Hasan bin Abil Hasan Yasar Al-ashri. Sebenarnya beliau tidak termasuk shahabat nabi, namun berada pada level tabi'in, karena beliau tidak pernah bertemu langsung dengan Rasulullah SAW. Namun beliau termasuk senior di kalangan tabi'in.
Pada diri beliau berkumpul segala kemuliaan, baik dari sisi keilmuan, kezuhudan, kewaraaan serta hikmah yang banyak. Dan ungkapan yang anda tanyakan di atas, hanyalah salah satu hikmah karya beliau.
Al-Hasan Al-Bashri sebenarnyalahir di Madinah, walaupun namanya dinishbahkan pada kota Bashrah. Beliau lahir pada akhir masa kekhalifahan Umar bin al-Khattab ra. Ayahnya maula dari Zaid bin Tsabit Al-Anshari ra.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc